Kapan Proyek Jalur Puncak II Selesai?

http://images.detik.com/content/2014/06/03/1016/071646_puncak21.jpg
Pihak Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) salah satu pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan jalur Puncak II, Jawa Barat belum bisa memastikan kapan proyek ini bisa selesai. Proyek yang diinisiasi oleh Provinsi Jawa Barat sejak 2011 lalu kini terkendala soal status lahan yang belum jelas diserahkan ke pemerintah pusat.

"Targetnya selesainya belum pasti, totalnya itu kan 48 km, sampai tembus ke Taman Bunga (Cianjur)," kata Kepala Balai Jalan Nasional IV Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Bambang Hartadi kepada detikFinance, Senin (2/6/2014).

Ia menjelaskan sejak Presiden SBY memberi lampu hijau proyek ini pada 2011 lalu, pihaknya sudah berbagi tugas dengan pemerintah provinsi. Waktu itu provinsi bertanggung jawab sebagai penyedia lahan. Namun Provinsi Jawa Barat melimpahkan soal pengadaan tanah ke pihak Kabupaten Bogor.

Selanjutnya pihak Kabupaten Bogor menggandeng para pengembang di kawasan tersebut untuk pengadaan tanahnya. Bambang menduga pengembang harus menyisihkan lahannya untuk pembangunan jalan jika ingin mendapatkan izin pengembangan kawasan di jalur tersebut.

"Para developer bekerjasama dengan bupati. Setahu saya Tommy Soeharto memang memberikan (hibah) lahannya, tapi Tommy akan diuntungkan kalau jalan ini dibangun, selama ini wilayah tersebut terisolir," kata Bambang.

Berapa Harga Tanah di Jalur Puncak II?

Jakarta -Pembangunan Jalur Puncak II di Bogor-Cianjur mendapat respons positif para pelaku bisnis perhotelan. Kawasan yang kini masih terisolir tersebut mengundang minat banyak investor.

Isu harga lahan menjadi pembahasan yang seksi terkait proyek jalan baru yang akan membentang sepanjang 48 Km itu. Berapa harga lahan di kawasan tersebut?

Wakil Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jhonnie Sugiarto mengatakan dirinya memang belum melakukan survei lapangan ke kawasan itu. Namun berdasarkan informasi sesama anggota PHRI, harga lahan di kawasan itu masih relatif murah dan bervariasi.

"Harganya bervariasi antara Rp 100.000 sampai Rp 500.000 per meter persegi, jadi kalau jalan itu sudah dibuka bisa naik cepat harganya," katanya kepada detikFinance, Selasa (3/6/2014).

Lahan di kawasan itu umumnya masih lahan kosong dan berbukit-bukit, termasuk di dalamnya ada perkebunan milik warga sekitar. "Sebagian masih milik warga, pengembang belum banyak," katanya.

Seperti diketahui wilayah yang dilewati Jalur Puncak II antara lain Babakan Madang (Kab. Bogor), Hambalang (Kab. Bogor), Sukamakmur (Kab.Bogor), Pacet Istana Cipanas (Kab. Cianjur).

Dampak pembangunan jalan baru ini diprediksi menganggat sektor properti di kawasan yang dilalui jalur Puncak II, termasuk di kawasan Sentul yang sudah banyak dimasuki pengembang besar, harga tanahnya relatif jauh lebih mahal.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan saat ini harga tanah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sudah mencapai Rp 5-8 juta per meter persegi.

"Sekarang di Sentul saja sudah Rp 5-8 juta, nanti saya pikir akan naik," kata Ali.
(hen/hds)

Link berita :
http://finance.detik.com/read/2014/06/03/145914/2598483/1016/berapa-harga-tanah-di-jalur-puncak-ii

Jalur Proyek Jalan Puncak II

Rencana pembangunan jalan Puncak II akan melintasi Kabupaten Bogor-Cianjur, Jawa Barat sepanjang kurang lebih 47 Km. Rancangan awalnya, rute jalur ini melewati kawasan Sirkuit Sentul (Bogor)-Babakan Madang-Hambalang- Sukmamakmur-Pacet Istana Cipanas (Cianjur), Jawa Barat.
 Jalur Puncak 2
Namun dalam perkembangannya, jalur proyek ini sempat diusulkan mengalami perubahan. Pemerintah Kabupaten Bogor memang mengajukan sejumlah revisi terhadap jalur itu di sekitar Sentul. Namun, hingga kini, revisi itu juga belum mendapat kepastian dari pemerintah pusat.

“Kami masih menunggu keputusan dari Kementerian Pekerjaan Umum,” ujar Kepala Seksi Perencanaan Teknik Dinas Bina Marga dan Pengairan Pemerintah Kabupaten Bogor Asep Priana Afriadi dikutip dari Majalah detik, Senin (2/6/2014)

Proyek jalan ini tidak hanya memberi akses bagi warga Jakarta yang hendak menuju kawasan wisata populer di sekitar Puncak Pass, seperti Cisarua dan Cipanas. Jalan ini juga bakal menghidupkan wilayah yang sekarang relatif terisolasi meski sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari Ibu Kota.

Berikut ini beberapa rencana pengembangan di wilayah jalur puncak II:
  • Sirkuit Sentul, satu-satunya sirkuit kelas dunia di Indonesia.
  • Lapangan Golf Palm Hill.
  • Wisata petualangan, seperti gua, panjang tebing, jalur off-road, dan sepeda gunung.
  • Hutan wisata dan air panas Gunung Pancar. Sudah dibuka, tapi akan dikembangkan lebih luas.
  • Selain dibuka tempat istirahat kendaraan, dikembangkan taman wisata atau tempat outbound.
  • Dikembangkan agrowisata.
  • Pengembangan sapi potong

Proyek Jalur Puncak II yang Sudah Ditunggu-tunggu

Proyek jalur puncak II setidaknya sudah dipersiapkan sejak 2011 atau 3 tahun lalu. Proyek ini awalnya ditargetkan bisa rampung 2013. Namun kenyataannya hingga saat ini hanya sepanjang 3,5 km jalan yang sudah mulai diaspal dari total 47,8 km.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional IV Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Hartadi menjelaskan penggagas jalan Puncak II adalah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Menurut Bambang, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyampaikan ide tersebut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat berkunjung ke Istana Cipanas sekitar tiga tahun lalu. Maklum saja, rombongan Presiden SBY kerap tersendat akibat macet dari Cipanas hingga keluar dari kawasan Puncak. Gayung pun bersambut, Presiden SBY setuju dengan pembangunan jalan alternatif menuju kawasan Puncak hingga kawasan Cipanas.

“Akhirnya diinstruksikan untuk membangun jalan itu,” kata Bambang dikutip dari Majalah detik Senin (2/6/2014).

Pembangunan melibatkan kerja sama pemerintah provinsi dengan pemerintah pusat. Pihak Provinsi meminta Kabupaten Bogor membebaskan lahan, sedangkan pusat bertugas membangun jalan dengan biaya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Rencana pembangunan jalan alternatif ke Puncak melewati kawasan sirkuit Sentul-Babakan Madang-Hambalang- Sukmamakmur-Pacet Istana Cipanas. Total anggaran untuk pembangunan jalan itu berdasarkan detail engineering design sebesar Rp 759 miliar. Jalan ini dirancang dengan lebar 30 meter dengan dua lajur menuju Jakarta serta dua lajur menuju Cipanas atau jauh lebih lebar dari jalur lama.

Akan Adakah Pelebaran Jalan di Jalur Puncak I

Jakarta -Jalur Puncak 2 sedang dibangun pemerintah sebagai alternatif jalur Puncak lama yang sudah beroperasi dan padat baik kendaraan dan aktivitas ekonominya. Pemerintah tak bisa menjamin jalur puncak II pun tak akan bernasib sama.

Saat ini, di sebagian besar jalur puncak yang telah beroperasi berdiri warung-warung, toko dan properti lain di kanan kiri jalan. Itu bisa jadi pemicu padatnya kondisi jalan tersebut, dan cenderung terlihat kumuh.

Kepala Balai Jalan Nasional IV Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Hartadi mengatakan, sejatinya, pemerintah daerah mengatur tata ruang wilayah di kawasan jalan tersebut. Namun pembangunan properti di sekitar jalan memang tak bisa dihindari.

"Itu tugas pemda setempat. Contoh saya bikin lingkar Nagrek, itu supaya tidak ada ruwet. Apa yang terjadi sekarang itu kaki lima semua," kata Bambang kepada detikFinance, Rabu (4/6/2014).

Bambang mengatakan, tanah di jalur puncak II merupakan hibah dari sebagian besar pengembang. Pengembang tentu melihat pembukaan jalan ini menjadi potensi keuntungan ekonomi yang besar.

"Mestinya nggak boleh (dibangun). Kalau kita mau mempertahankan. Tapi saya nggak yakin. Pengembang di sana beri tanah untuk jalan pasti ada maunya," jelasnya.

Nasi sudah menjadi bubur, jika sudah terbangun akan sulit untuk meruntuhkan bangunan-bangunan tersebut. Seperti halnya yang sudah terjadi di jalur puncak yang sudah beroperasi. Tak ada upaya pelebaran jalan di jalur puncak itu.

Link berita :
http://finance.detik.com/read/2014/06/04/074816/2599068/1016/akankah-jalur-puncak-ii-kumuh-seperti-puncak-i